Sabda Hidup
Minggu, 5 Mei 2024, Minggu Paskah VI Tahun B
Bacaan: Kis. 10:25-26,34-35,44-48; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 1Yoh. 4:7-10; Yoh. 15:9-17.
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”
YOH 15: 15
Hamba Tuhan adalah gelar kehormatan tertinggi, sebuah gelar yang diperuntukkan bagi tokoh-tokoh besar yang kita temukan dalam Perjanjian Lama: Musa, Daud, Yosua dan sejenisnya. Dalam Perjanjian Baru, Santo Paulus juga menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan. Kita juga memiliki seorang wanita satu-satunya, yang oleh komunitas Kristen purba, diberi gelar ‘hamba Tuhan’, yaitu Maria. Lukas dalam Injilnya menuliskan ungkapan yang indah dari mulut Maria, dengan mengatakan: “Aku ini hamba Tuhan,” untuk menunjukkan ketersediaan penuh Maria untuk melayani rencana Allah.
Tetapi hari ini, Yesus memperkenalkan gelar kehormatan baru: “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, karena hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Ini adalah gelar kehormatan yang baru: ‘sahabat Yesus’.
Yesus menekankan perbedaan antara hamba dan sahabat dengan mengatakan: hamba tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran tuannya. Hubungan antara sahabat sangatlah berbeda. Bayangkan apa artinya menjadi sahabat Kaisar pada masa Yesus; sahabat Kaisar memiliki akses bebas ke istana tanpa harus mengikuti pemeriksaan dan jadwal. Dia bisa bertemu dengan kaisar kapan saja. Dalam Perjanjian Lama: Abraham disebut sebagai sahabat Allah. Dia adalah orang yang dengannya Tuhan mendiskusikan masalah-masalah-Nya. Kita ingat kasus Sodom dan Gomora: Tuhan berdiskusi dengan sahabatnya, Abraham, dan berkata kepadanya: “Lihatlah, Aku terpaksa melenyapkan kedua kota ini.”
Yesus tidak menginginkan hamba, tetapi murid-murid yang adalah sahabat; Yesus tidak dapat menyebut murid-murid-Nya sebagai ‘hamba’ karena Dia telah menyatakan kepada mereka rancangan kasih Allah atas dunia. Hanya sahabat yang dipercayakan untuk mengetahui rahasia keluarga, sementara hamba tetap berada dalam kegelapan.
Sayangnya, masih banyak orang yang terjebak dalam hubungan sebagai hamba yang taat kepada pemberi hukum, seperti majikan yang membayar pegawainya di penghujung hari. Banyak yang masih lebih memilih spiritualitas seperti ini karena mereka yakin bahwa dengan berbuat baik dan mengikuti aturan, mereka akan mengumpulkan pahala di hadapan sang majikan, yaitu Tuhan. Itu baik, tetapi Yesus menghendaki lebih dari itu.
Yesus tidak menginginkan spiritualitas seperti ini. Dia ingin kita terlibat dalam proyek-proyek-Nya bukan karena paksaan, tetapi karena kehendak bebas kita. Inilah persahabatan yang Yesus ingin jalin dengan para murid-Nya, sukacita untuk mengasihi dan memberi dengan bebas.
Kita tahu bahwa Allah mengasihi kita dan ingin hidup di antara kita. Dia memanggil kita sebagai sahabat-sahabat-Nya, orang-orang pilihan-Nya. Marilah kita menganggapi kasih-Nya tanpa batas. Kita yakin bahwa kita mengasihi Allah dan bahwa Ia hadir di antara kita ketika kita mengasihi satu sama lain. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk melakukannya.
Yesus, Engkau telah mengambil langkah pertama dan menantikan tanggapanku terhadap undangan kasih-Mu. Tolonglah saya untuk mengalami kasih-Mu yang mengusir semua ketakutan. Tolonglah aku melaksanakan perintah kasih-Mu. Amin.
