Remah Harian

RASA HORMAT TAK PANDANG JABATAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 16 September 2024, Peringatan Wajib St. Kornelius dan St. Siprianus.
Bacaan: 1Kor 11:17-26Mzm 40:7-8a.8b-9.10.17Luk 7:1-10

Seorang perwira (centurion) pada masa Yesus adalah orang yang memiliki otoritas. Dia memiliki prajurit di bawah komandonya meskipun dia memiliki komandan di atasnya dalam hirarki militer Romawi.

Dalam Injil hari ini, seorang perwira yang telah menjadi dermawan yang baik bagi penduduk Yahudi setempat mengirim beberapa utusan kepada Yesus untuk meminta Dia menyembuhkan hambanya yang hampir mati. Kita tahu kelanjutan ceritanya. Dalam perjalanan, perwira tersebut mengutus beberapa sahabatnya untuk mengatakan kepada Yesus bahwa Dia tidak perlu pergi ke rumahnya karena hanya dengan sepatah kata saja, Yesus sudah dapat menyembuhkan hambanya. Yesus sangat kagum mendengar hal ini dan ketika para utusan itu kembali, mereka menemukan hamba perwira itu sudah sembuh total.

Kita dapat memahami rasa hormat perwira Romawi itu kepada kuasa Yesus. Ia tahu bahwa Yesus adalah seorang Rabi; bahwa Dia mendapatkan popularitas karena hikmat dan kuasa mukjizat-Nya. Orang-orang berkumpul di sekeliling-Nya ke mana pun Dia pergi dan mereka berpegang pada setiap ajaran-Nya. Pernyataan perwira itu, “Aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit,” dengan jelas menunjukkan penghargaannya terhadap otoritas Yesus.

Tetapi bagi seorang hamba? Di sini kita melihat seorang pejabat tinggi Romawi yang memperhatikan hambanya. Budak masih merupakan hal yang umum pada zaman Yesus. Mereka dapat dengan mudah dibeli dengan harga tertentu. Ketika mereka menunjukkan kinerja yang buruk, mereka dapat dengan mudah dipecat atau diganti dan dijual kembali ke pasar. Perwira itu bisa saja mengganti hamba itu dengan hamba yang lain dan membiarkannya mati. Tetapi tidak. Injil menggambarkan perwira itu sebagai orang yang sangat menghargai hambanya.

Perwira Romawi itu jelas seorang yang memiliki kerendahan hati yang tulus dan rasa hromat terhadap sesama manusia. Dia tidak mengagung-agungkan pangkat atau jabatannya. Dia lebih berpegang pada nilai kemanusiaan. Ia sangat menghargai hambanya. Dia juga sangat menghargai Yesus. Kerendahan hati-Nya tidak ada duanya. Di depan “SESEORANG” dan seorang yang “bukan siapa-siapa”, dia menunjukkan rasa hormat dan penghargaannya.

Bagaimanakah penghargaan saya terhadap sesama? Apakah saya masih pilih kasih?

Hari ini dan setiap hari, tolonglah aku untuk menghormati Engkau, ya Tuhan, dalam setiap orang yang aku jumpai. Amin.

Author

Write A Comment