Remah Harian

BERSYUKUR

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 13 November 2024, Rabu Pekan Biasa XXXII
Bacaan: Tit 3:1-7Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6Luk 17:11-19.

Perikope Injil hari ini bercerita tentang kesembuhan sepuluh orang kusta, namun hanya satu orang, seorang Samaria, yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus. Perikop ini menekankan rasa syukur – sebuah tema sentral bagi Lukas, yang sering menggambarkan orang-orang yang memuji Tuhan atas mukjizat-mukjizat Yesus. Bersyukur adalah sikap yang penting bagi orang Kristen, yang mengakui setiap berkat sebagai anugerah dari Tuhan. Kembalinya orang kusta Samaria untuk mengucap syukur menunjukkan rasa yang dalam akan anugerah Allah, yang melampaui ritual atau jasa pribadi.

Yesus bertemu dengan sekelompok orang kusta dalam perjalanan menuju Yerusalem melalui Samaria dan Galilea. Mereka berseru dari kejauhan karena masyarakat menolak mereka yang dianggap sebagai orang yang dikutuk oleh Tuhan. Namun, mereka menunjukkan iman mereka kepada belas kasih-Nya. Yesus menyuruh mereka untuk menghadap para imam, dan ketika mereka pergi, mereka disembuhkan. Perjalanan mereka melambangkan perjalanan iman, percaya kepada perkataan Yesus bahkan tanpa melihat secara langsung hasilnya.

Reaksi orang Samaria itu menunjukkan keterbukaan yang Yesus ingin lihat dari para pengikut-Nya. Sementara yang lain melanjutkan perjalanan mereka untuk melaksanakan kewajiban mereka menunjukkan diri kepada imam dan mungkin merasa berhak atas kesembuhan mereka, orang Samaria ini kembali untuk memuliakan Allah. Justru orang Samaria, yang dianggap murtad oleh orang Israel, yang memahami kesembuhannya sebagai tindakan kasih karunia yang murni, sadar bahwa ia tidak memiliki klaim pribadi atas kesembuhan itu. Yesus menggunakan momen ini untuk menunjukkan bahwa rasa syukur menumbuhkan hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan, memampukan kita untuk mengenali kemurahan hati-Nya di sepanjang hidup kita.

Orang Samaria ini menjadi teladan bagi siapa saja yang dipanggil untuk memiliki hati yang bersyukur. Reaksinya menunjukkan kepada kita bahwa iman dan rasa syukur saling berkaitan erat. Pemuridan yang sejati menuntut kita untuk mengakui kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan dan mempertahankan sikap bersyukur setiap saat. Kita diundang untuk membagikan karunia ini kepada orang lain, membantu mereka menyadari bahwa setiap saat menawarkan kesempatan untuk merayakan kasih karunia Allah.

Syukur adalah sebuah keutamaan bukan hanya di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah. Allah pasti tidak membutuhkan pujian kita. Dia adalah Allah, dan Dia tidak membutuhkan yang lain. tidak ada yang dapat kita lakukan yang tidak dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Tidak ada, kecuali satu. Allah tidak dapat mengasihi dirinya sendiri. Kasih itu diberikan, sebuah aliran kasih karunia dari satu orang kepada orang lain. Allah ingin kita mengasihi Dia. Ucapan syukur kita menjadi bermakna karena itu adalah ungkapan kasih kita kepada Allah.

“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Semoga sabda-Mu ini selalu dapat kami dengar setiap kali kami mengalami kasih dan penyelenggaraan-Mu dengan penuh syukur, ya Tuhan. Amin.

Author

Write A Comment