Remah Harian

TERPUJILAH TUHAN!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 24 Desember 2024, Hari Biasa Khusus Advent
Bacaan: 2Sam. 7:1-5,8b-12,16Mzm. 89:2-3,4-5,27,29Luk. 1:67-79.

Kemarin siang, dalam perjalanan menuju Katedral Merauke untuk Perayaan Ekaristi Minggu Advent IV sore hari, saya bertemu sebuah rombongan orang-orang bertopeng. Saya pikir, sebuah rombongan pertunjukan yang mau tampil di suatu tempat – dengan diiringi musik yang cukup hingar bingar. Tetapi ternyata di ujung rombongan berkostum Santa Klaus. Rupanya mereka adalah rombongan anak-anak muda yang hendak berkeliling ke kampung-kampung, mengantar “Sinterklas” berbagi hadiah-hadiah bagi anak-anak, tak ketinggalan dalam rombongan itu adalah “Piet Hitam” yang biasa menakut-nakuti anak-anak nakal dengan mengatakan bahwa anak-anak nakal itu akan dimasukkan ke dalam karung. Itulah salah satu keramaian di seputar hari Natal. Barangkali hari-hari sebelum Natal banyak juga yang disibukkan dengan pelbagai hal misalnya membuat kue, belanja ini dan itu, selain tentu saja latihan-latihan dan persiapan-persiapan liturgis. Semoga kesibukan itu tidak membuat kita lupa akan siapa yang sebenarnya akan kita rayakan. Beberapa jam sebelum kita rayakan Vigili Natal adalah waktu yang baik bagi kita untuk merenungkan siapa yang sebenarnya kita rayakan.

Dalam audiensinya tanggal 23 Desember 2020, Paus Fransiskus berkata: “it is important that Christmas should not be reduced to a merely sentimental or consumerist festival, full of gifts and good wishes but poor in Christian faith.”  Pentinglah bagi kita agar Natal tidak direduksi menjadi perayaan sentimental atau pesta pora konsumeristis, penuh dengan hadiah dan ucapan selamat, tetapi miskin dalam iman Kristiani. Perlulah bagi kita “untuk mengekang mentalitas duniawi tertentu, tidak mampu menangkap inti pijar dari iman kita,” lanjutnya. Beberapa hari lalu Bapa Suci juga mengajak kita merayakan Natal dengan semangat kerendahan hati. Sebab hanya kerendahan hati yang memimpin kita pada Tuhan. Humility is the only way that leads us to God. At the same time, specifically because it leads us to Him, humility leads us also to the essentials of life, to its truest meaning, to the most trustworthy reason for why life is truly worth living.” Pada saat yang sama, khususnya karena kerendahan hati memimpin kita pada-Nya, ia memimpin kita juga pada hal yang essensial dalam hidup kita, pada arti yang paling sejati, pada alasan yang paling terpercaya sehingga hidup layak dijalani.

Natal itu bermakna bukan hanya karena kemeriahan dan hingar-bingar yang dibawanya tetapi lebih dari itu. Natal itu penting karena Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa dan kematian. “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,” demikian seru Zakharia dalam kidungnya.

Dalam Injil hari ini, Zakharia menegaskan dari pengalaman iman pribadinya tentang Allah itu, Allah yang menjadi manusia dan menyelamatkan umat-Nya. Kidung Zakharia yang dikenal sebagai “Benedictus” dapat dihayati sebagai doa yang memberikan jaminan bahwa Tuhan ada dan akan selalu bersama kita.

Memang Tuhan tak pernah janji bahwa kita akan terhindar dari semua masalah dan cobaan yang akan menghampiri kita, tetapi kita sadar bahwa kita tidak akan menghadapi masalah sendirian karena Tuhan bersama kita.

Di sinilah kelahiran Yesus mendapatkan maknanya karena Ia adalah Allah yang merangkul kemanusiaan sehingga Ia menjadi sama dengan kita kecuali dalam hal dosa, Ialah Imanuel, Allah yang berjalan bersama umat-Nya. Hari ini kita sangat membutuhkan kelembutan dan sentuhan manusiawi dalam menghadapi begitu banyak gejolak dan ketidakpastian. Ia berjalan bersama kita dalam situasi kini yang “tidak baik-baik saja.”

Aku akan selalu bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, atas anugerah yang tak terbatas yang Engkau curahkan ke dalam hidupku. Engkau selalu berjalan bersamaku. Amin.

Terpujilah Tuhan! Selamat menyongsong Natal yang Penuh Berkah!

Author

Write A Comment