Sabda Hidup
Selasa, 1 Juli 2025, Selasa Pekan Biasa XIII
Bacaan: Kej. 19:15-29; Mzm. 26:2-3,9-10,11-12; Mat. 8:23-27.
“Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”
[Mat 8: 26 – 27].
Kita renungkan hari ini kisah Yesus menenangkan angin ribut di danau Genesaret. Namun, penting untuk diingat bahwa sang penginjil tidak memberikan kisah seorang saksi mata tentang penenangan badai. Sebuah ajaran teologi yang mengandung banyak referensi Alkitab disajikan kepada kita. Sang penginjil ingin menjawab pertanyaan yang telah diajukan orang sejak Yesus memulai pelayanan publik-Nya: “Siapakah orang ini?” “Orang apakah Dia ini?”
Para murid naik perahu bersama sang Guru, tetapi ke mana mereka pergi? Ayat yang langsung mengikuti bacaan hari ini mengatakan kepada kita bahwa Yesus dan para murid tiba di seberang, di wilayah Gadara. Di sana, Ia mengusir setan dari dua orang yang kerasukan, dan setan-setan itu masuk ke dalam kawanan babi. Hal itu menunjukkan bahwa penduduk daerah tersebut adalah peternak babi. Oleh karena itu, mereka pasti orang-orang kafir, karena orang Yahudi tidak memelihara babi.
Dalam literatur kuno, perahu melambangkan komunitas atau perkumpulan. Matius menceritakan kisah Gereja purba, di mana Sang Guru mengundang komunitas Kristen untuk pergi ke “seberang” – ke bangsa-bangsa lain untuk membawa pesan Injil. Perahu – yaitu Gereja – memiliki misi untuk membawa Kristus kepada bangsa-bangsa lain, tetapi saat berlayar, badai membuat perjalanan tidak mungkin dilanjutkan. Saat penyeberangan yang berbahaya, Yesus tertidur sementara para murid berjuang untuk bertahan hidup melawan gelombang laut.
Adegan ini mungkin mengingatkan pada perjalanan Yunus ke Niniwe untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada orang kafir. Ketika terjebak dalam badai, ia tertidur di bagian bawah kapal (Yun 1:5). Injil hari ini menggambarkan Yesus yang tertidur. Para rasul membangunkan-Nya dengan berkata, “Tuhan, tolonglah, kita binasa! Tapi bagaimana mereka bisa berpikir Tuhan bisa menyelamatkan mereka? Ini sebenarnya adalah doa Gereja purba kepada Kristus yang Bangkit.
Kata “tidur” sering digunakan dalam Kitab Suci untuk menunjukkan kematian. Bahkan Yesus menggunakannya secara metaforis, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur” (Yoh 11:11); “Anak ini tidak mati, tetapi tidur” (Mrk 5:39-40). Matius pasti menafsirkan perjalanan ini sebagai simbol kehidupan Gereja setelah wafat Yesus, yang ditinggalkan sendirian di tengah taufan dan badai kehidupan. Meskipun para murid menyadari bahwa Yesus ada bersama mereka, Dia tampak sedang tidur. Saat para murid dihadapkan pada bahaya dunia yang penuh badai, mereka berdoa kepada Kristus yang Bangkit, “Tuhan, selamatkanlah kami!”
Kehadiran Tuhan selalu bersama mereka dan bersama kita melalui pesannya: “Mengapa kamu takut?”
Tuhan, kami percayakan diri kami sepenuhnya kepada-Mu. Bersama-Mu kami dapat mengatasi bahaya apapun. Amin.
