Remah Harian

MEREKA MAKAN SAMPAI KENYANG

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 22 Juni 2025, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Bacaan: Kej. 14:18-20Mzm. 110:1,2,3,41Kor. 11:23-26Luk. 9:11b-17.

“Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang sisa sebanyak dua belas bakul.”
[Luk 9: 17]

Hari ini, pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus — Corpus Christi — kita berkumpul untuk merayakan misteri besar dalam inti iman kita: Ekaristi. Namun, perayaan hari ini bukan hanya tentang ajaran yang kita yakini atau ritual yang kita lakukan. Ini sungguh-sungguh tentang Yesus, yang benar-benar hadir, yang datang untuk memuaskan rasa lapar terdalam hati kita.

Dalam Injil hari ini, kita melihat kerumunan orang yang lelah dan lapar. Dan apa yang dilakukan Yesus? Dia tidak mengusir mereka. Dia menyambut mereka. Dia mengajar, menyembuhkan, dan akhirnya memberi mereka makan. Dengan lima roti dan dua ikan, Dia memuaskan ribuan orang — bukan dengan hingar bingar atau pertunjukan, tetapi melalui tangan rendah hati dan tenang para murid-Nya. “Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.” Inilah Ekaristi. Ia memberi makan dalam diam. Ia tidak memukau. Ia menyatakan diri dalam hal yang biasa.

Setiap kali kita datang menghadiri Misa, dua gerakan terjadi: kita makan, dan kita dikenyangkan, dipuaskan. Kita membawa kelelahan kita, harapan kita, rasa lapar kita akan makna, kasih, dan damai — dan Yesus memberi kita bukan hanya sesuatu, tetapi diri-Nya sendiri. Ia menjadi ROTI kita. Ia menjadi kekuatan kita. Ia menjadi sukacita kita.

Namun, karunia Ekaristi tidak pernah dimaksudkan untuk tetap berada di dalam gereja. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan.” Setiap kali kita menerima Tubuh Kristus, kita dipanggil untuk mengenali dan melayani Tubuh yang sama dalam diri orang lain, dalam diri orang miskin, orang yang ditinggalkan, dan orang yang terabaikan. Jika kita benar-benar menyembah Kristus dalam Hosti Kudus, kita juga harus menemui-Nya dalam wajah-wajah mereka yang lapar akan cinta, martabat, dan harapan.

Tahun ini, perayaan kita memiliki makna yang lebih dalam dengan pengakuan Vatikan atas Mukjizat Ekaristi yang terjadi di Gereja Kristus Raja di Vilakkannur, Kerala, India. Dalam misa pada tanggal 15 November 2013, sebuah wajah yang bercahaya dan menyerupai Kristus muncul pada hosti yang sudah dikonsekrir. Setelah 11 tahun penyelidikan teologis dan ilmiah, Gereja menyatakan hal itu sebagai mukjizat. Gambar tersebut tidak dilukis atau ditambahkan tetapi muncul dari Hosti itu sendiri.

Mukjizat ini tidak bertujuan untuk sekadar dikagumi, tetapi sebuah undangan. Mukjizat itu juga berwujud suatu perubahan fisik, tetapi sebuah tatapan lembut—Kristus yang mengungkapkan diri-Nya dengan kelembutan, dari Sang Roti Hidup sendiri. Di dunia di mana keyakinan akan Kehadiran Sejati semakin memudar, mukjizat ini memanggil kita kembali. Ia berbisik, “Aku ada di sini. Aku menunggumu.”

Mukjizat itu juga mengingatkan kita bahwa kekudusan seringkali mekar di pinggiran. Mukjizat itu terjadi di sebuah paroki kecil dan pedesaan, namun kini berbicara kepada seluruh Gereja. Seperti yang sering dikatakan Paus Fransiskus, Gereja hidup dan bernafas di pinggiran. Kristus memilih yang sederhana untuk mengingatkan kita akan hal yang esensial.

Jadi hari ini, saat kita menghormati Sakramen Mahakudus, mari kita mohon mata iman yang baru. Dengan mata iman yang baru itu semoga kita mengenali bahwa setiap Misa adalah mukjizat; setiap Hosti Kudus adalah Kristus sendiri. Setiap Komuni adalah perjumpaan nyata dengan-Nya. Semoga kita mengenali-Nya dalam pemecahan roti, semoga hati kita terbakar dengan mukjizat dan cinta yang baru.

Tuhan, berilah aku keyakinan yang tak tergoyahkan akan Kehadiran Sejati Kristus dalam Ekaristi. Amin.

Author

Write A Comment