Sabda Hidup
Rabu, 19 Februari 2025, Rabu Pekan Biasa VI
Bacaan: Kej. 8:6-13, 20-22-; Mzm. 116: 12-13,14-15,18-19; Mrk. 8:22-26.
Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas,” (Mrk 8: 22 – 25).
Helen Keller (1880-1960) pernah ditanya apakah kebutaan adalah hal terburuk yang bisa menimpa seseorang. Dia menjawab bahwa hal terburuk yang bisa menimpa seseorang bukanlah kehilangan penglihatannya tetapi kehilangan visi dalam hidup. Helen Keller menjadi buta dan tuli pada usia satu tahun tujuh bulan. Namun, cacat fisiknya tidak menghalangi dia untuk mengejar visinya. Dengan bantuan Anne Sullivan Macy (1866-1936) yang juga buta, Helen dapat menyelesaikan gelar sarjananya dan menjadi seorang penulis dan dosen terkenal di dunia internasional. Hingga saat ini, karyanya merupakan cetak biru bagi pendidikan anak-anak tunarungu-bisu, buta atau tunanetra.
Kita beruntung memiliki karunia penglihatan, tetapi apakah kita sungguh-sungguh melihat? Ketika kita mendengar kata “buta” yang langsung ada di benak kita adalah orang yang mengalami gangguan penglihatan atau orang yang tidak dapat melihat. Akan tetapi orang buta tidak terbatas pada mereka yang tidak dapat melihat tetapi juga mereka yang tidak memiliki visi dalam hidup; mereka yang tidak menemukan makna atau tujuan hidup; mereka yang belum menemukan tujuan keberadaan mereka. Mereka buta secara rohani.
Mari kita renungkan, apakah kita juga salah satunya. Jika ya, maka kita membutuhkan penyembuhan; kita membutuhkan Yesus. Dalam kebutaan rohani kita, kita kehilangan keindahan dan makna hidup yang sebenarnya dan mungkin, kita menjalani kehidupan yang menyedihkan. “Orang yang sengsara bukanlah mereka yang buta tetapi mereka yang menolak untuk melihat.” Apakah kita sungguh-sungguh melihat?
Tuhan sembuhkan penglihatan kami, pulihkan kejernihan, kebenaran, dan iman dalam hidup kami. Singkirkanlah kebutaan dari hati kami sehingga kami dapat melihat Engkau dan dunia dengan mata yang baru. Amin.
