Sabda Hidup
Jumat, 7 Februari 2025, Jumat Pekan Biasa IV
Bacaan: Ibr. 13:1-8; Mzm. 27:1,3,5,8b-9abc; Mrk. 6:14-29.
Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: “Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!” (Mrk 6: 21 – 24).
Sensualitas dapat menjerumuskan Anda untuk memenggal kepala orang yang tidak bersalah. Kita merenungkan hidup dan kemartiran Yohanes Pembaptis, seorang yang memiliki iman yang teguh dan komitmen yang kokoh terhadap kebenaran. Kisahnya mengajarkan kita tentang ketenaran, popularitas, sensualitas, dan keberanian untuk mempertahankan prinsip-prinsip kita.
Misi Yohanes Pembaptis untuk membawa orang lain kepada Tuhan membuatnya dikagumi sekaligus dimusuhi. Ketenarannya menimbulkan rasa ingin tahu, tetapi juga iri hati dan gosip. Seperti Yohanes, kita juga mungkin menghadapi kritik atau penilaian yang salah ketika sungguh-sungguh menghidupi iman kita. Alih-alih memikirkan apa yang orang lain pikirkan, kita dipanggil untuk tetap fokus pada misi kita. Janganlah kita membiarkan pendapat orang lain mengalihkan perhatian kita dari tujuan kita.
Kisah tragis tentang Herodes dan tarian putri Herodias menunjukkan bagaimana keinginan sesaat dapat menyebabkan konsekuensi yang menghancurkan. Kurangnya pengendalian diri Herodes menyebabkan kematian seorang yang tidak bersalah. Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat mengaburkan penilaian dan menuntun kita untuk mencelakakan diri kita sendiri dan orang lain. Marilah kita menjaga hati kita, tetap waspada terhadap godaan yang dapat menjauhkan kita dari kebenaran dan kasih Allah.
Yohanes Pembaptis berdiri teguh dalam memberitakan kebenaran, bahkan dengan mengorbankan nyawanya. Kemartirannya mengingatkan kita untuk memprioritaskan kebenaran di atas kenyamanan, kemudahan, atau pengakuan. Dalam kehidupan kita sendiri, kita dipanggil untuk menjadi saksi-saksi kebenaran, menolak keinginan sesaat dan berdiri teguh dalam iman, bahkan ketika itu menuntut pengorbanan yang besar.
Semoga kita, seperti Yohanes, tetap setia pada prinsip-prinsip Injili. Dan dalam perjalanan kita ke depan, marilah kita berpegang pada janji bahwa kebaikan dan kebenaran akan selalu menang.
Tuhan, Engkau tahu betapa penakutnya kami. Tolonglah kami untuk menanggapi Injil Putera-Mu Yesus dengan serius dengan membiarkan Roh Kudus-Mu memberi kami wawasan dan keberanian para nabi. Amin.
