Sabda Hidup
Kamis, 26 Desember 2024, Pesta St. Stefanus, Martir Pertama
Bacaan: Kis. 6:8-10; 7:54-59; Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17; Mat. 10:17-22.
Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” [Mat 10: 22]
Bagaimana mungkin Gereja merayakan pesta martir pertama sehari setelah Natal? Tak ada waktu untuk bersenang-senang? Sehari setelah Natal yang “indah”, rasanya seperti disiram seember air dingin di atas kepala kita. Pesta martir pertama membuat kita sadar bahwa Kekristenan bukanlah agama yang manis, yang mendayu-dayu memuaskan emosi kita, tetapi mengingatkan kita akan Sabda Yesus bahwa barang siapa ingin mengikut Dia harus memikul salib.
Stefanus dipilih oleh para Rasul sebagai salah satu dari tujuh penolong yang akan merawat orang miskin, orang sakit dan orang yang terpinggirkan di dalam komunitas. Dalam pekerjaan amalnya, ia meneladani Yesus. Tidak hanya itu, beberapa saat sebelum ia wafat, ia berdoa untuk para algojo – seperti yang Yesus lakukan.
Stefanus membuat Kristus nampak dalam hidup dan kematiannya, dan dengan demikian menjadi murid yang sempurna, model dan tantangan bagi semua murid Yesus selama berabad-abad, termasuk kita.
Pada tanggal 26 Desember 2014, Paus Fransiskus berbicara tentang sukacita Natal dan kata-kata Yesus yang penuh tuntutan: “Kamu akan dibenci karena nama-Ku, tetapi barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya, ia akan diselamatkan. Kata-kata ini tidak menghilangkan sukacita Natal, tetapi melucuti rasa manis yang palsu dan sentimental yang bukan miliknya. Hal ini membuat kita mengerti bahwa dalam pencobaan yang dialami karena iman, kekerasan dikalahkan oleh kasih, kematian oleh kehidupan. Jika kita semua tidak dipanggil untuk menjadi martir, seperti Stefanus, bagaimanapun juga, setiap orang Kristen dipanggil dalam setiap situasi untuk menjalani hidup yang berpadanan dengan iman yang ia akui.”
Apakah Anda cukup sadar bahwa mengikut Kristus bukanlah “tamasya di taman yang indah” tetapi sebuah panggilan untuk bersaksi di masa-masa sulit?
Tuhan, Sabda-Mu hari ini mengejutkan tetapi membuka mataku. Utuslah Roh Kudus agar aku mampu menjadi saksi-Mu dalam hidupku dan berani membela iman seperti yang dilakukan oleh Santo Stefanus. Amin.
