Sabda Hidup
Selasa 24 Desember 2024, Vigili Hari Raya Natal
Bacaan: Yes. 62:1-5; Mzm. 89:4-5,16-17,27,29; Kis. 13:16-17,22-25; Mat. 1:1-25 (panjang) atau Mat. 1:18-25 (singkat).
Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel”, yang berarti: Allah menyertai kita. [Mat 1: 23]
Seorang bapak tidak mau pergi ke gereja untuk merayakan natal bersama keluarganya karena ia tidak dapat mengerti apa artinya “Allah menjadi manusia.” Maka ia tinggal di rumah sendirian. Di tengah cuaca buruk waktu itu, ia melihat sekawanan burung di halaman belakang rumahnya. Rupanya kawanan burung itu mencari tempat perlindungan dari hujan dan angin kencang malam itu. Bapak itu merasa iba dan menolong burung-burung itu. Ia mencoba menggiring mereka masuk ke gudangnya, ia memancing mereka dengan makanan, tetapi semua usaha gagal. Nampaknya burung-burung itu tidak mengerti bahwa ia ingin menolong mereka. Akhirnya ia mengerti, burung-burung itu tentu melihatnya sebagai makhluk yang asing dan barangkali menakutkan bagi mereka. Tentu mereka tidak mempercayainya. Dalam keputusasaan ia bergumam: “Andai saja aku bisa menjadi burung sesaat saja, saya dapat menyelamatkan mereka.” Persis pada saat itu, ia mendengar lonceng gereja berdentang. Ia berlutut saat itu juga dan berkata: “Sekarang aku mengerti mengapa Allah menjadi manusia.”
Kita berlutut di depan palungan, di mana Yesus berbaring di kandang hewan. Sukar kita pahami bahwa Allah menjadi manusia, apalagi dengan cara untuk membuktikan kasih-Nya yang hampir mustahil dapat kita teladani! Dan Allah melaksanakan perbuatan-Nya itu bukan karena kita ini layak diperlakukan demikian, melainkan karena kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita. Allah sungguh ingin agar semua orang ciptaan-Nya mengambil bagian dalam kebahagiaan-Nya yang abadi.
Peristiwa yang terjadi di Betlehem di tengah malam lebih dari duapuluh abad yang lalu itu adalah awal perbuatan kasih, yang akan dilakukan Yesus terus menerus sepanjang waktu hidup-Nya yang pendek di Palestina selama hidup-Nya. Kita semua telah dijadikan sahabat-sahabat-Nya. Maka marilah kita selalu ingat, memelihara dan melaksanakan persahabatan-Nya dengan kita itu sekarang ini juga! Solidaritas antar sesama manusia sebagai sahabat, itulah pesan Natal yang tetap relevan dan aktual untuk kita wujudkan sekarang ini juga.
Untuk merayakan Natal penuh makna itu, kini terbukalah kesempatan bagi kita semua tanpa perbedaan, untuk bertanya kepada diri kita masing-masing :
- Apakah aku sungguh menyediakan tempat bagi Allah dalam hidupku, di dalam hatiku?
- Ataukah hidupku terlalu penuh dengan hal-hal lain yang kuanggap lebih penting?
- Apakah hatiku hanya penuh dengan kegembiraan atau kesedihanku sendiri saja?
- Apakah sikap hidupku terlalu dikuasai oleh ambisi untuk kedudukan tinggi, kekuasaan, popularitasku?
- Apakah dalam hatiku tiada tempat bagi Tuhan, sehingga Ia harus mencari Betlehem yang lain?
Sejak peristiwa di Betlehem duapuluh abad lalu, kini pun Yesus harus lahir kembali di depan hati kita! Semoga kita sekarang ini pun tetap bersedia membuka pintu hati kita dan menerima Dia dengan rela dan gembira. Bila Ia sungguh lahir kembali dalam hati kita, maka kita akan sungguh bergembira bahkan bahagia, karena bersama dan seperti Dia kita dapat membahagiakan sesama kita. Bukanlah kita bahagia bila kita dapat membahagiakan orang lain?
Banyak dari kita yang mengatakan bahwa kondisi kita saat ini sedang “tidak baik-baik saja.” Ada banyak kecemasan menghadang peziarahan kita di hari-hari mendatang. PPN naik menjadi 12% – kejelasan tentang hal itu masih simpang siur, namun sudah pasti efek domino yang disebabkan akan membebani masyarakat. Perang juga masih berkecamuk di berbagai belahan dunia. Belum lagi ketegangan yang ditimbulkan oleh perebutan kekuasaan, krisis lingkungan yang semakin parah, hak-hak orang kecil yang diinjak-injak, dan masih banyak lagi. Namun dalam situasi apapun kelahiran-Nya menegaskan bahwa Ia tetaplah Immanuel, Allah beserta kita. Kisah kelahiran-Nya yang didahului dengan silsilah keluarga menegaskan bahwa Ia memang menyejarah dalam keluarga manusia yang sering kali juga “tidak baik-baik saja”.
Sekali lagi, solidaritas antar sesama manusia sebagai sahabat, itulah pesan Natal yang tetap relevan dan aktual untuk kita wujudkan sekarang ini juga. Bersama Dia mari kita berjalan bersama dalam peziarahan kita dengan mantap, dalam situasi apapun. Dalam perjalanan bersama itu kita hidupi kasih satu sama lain.
“It is Christmas when you let God love others through you,” kata Ibu Teresa dari Calcutta.
Semoga Ia lahir di hati anda dan hati saya! Selamat Natal!
