Remah Harian

ALLAH BESERTA KITA, JANJI KEKAL

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu. 18 Desember 2024, Hari Biasa Khusus Advent
Bacaan: Yer. 23:5-8Mzm. 72:2,12-13,18-19Mat. 1:18-24.

Kelahiran Yesus seperti disampaikan dalam Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kasih karunia Allah sering kali terungkap melalui keadaan-keadaan yang tak terduga dan tidak lazim, dan menyoroti bagaimana Allah bekerja melalui kelemahan manusia untuk menggenapi rencana ilahi-Nya. Saat ini, ketika Gereja menghadapi tantangan di dunia yang ditandai dengan perpecahan, ketidakadilan, dan perubahan yang amat cepat, pesan ini menawarkan harapan: Kerahiman Allah melampaui norma-norma masyarakat dan keterbatasan manusia.

Situasi Maria yang “tidak biasa” sebagai seorang perawan yang mengandung oleh Roh Kudus mencerminkan campur tangan Allah yang mengganggu dalam sejarah, mengingatkan kita bahwa tujuan-tujuan ilahi sering kali berbenturan dengan harapan-harapan manusia. Yusuf dalam kerendahan dan ketulusan hatinya, mendengarkan Tuhan dan taat kepada-Nya. Ia tidak jadi menceraikan Maria diam-diam. Malahan ia membawa Maria ke rumahnya, menjaganya dari segala macam skandal. Tanggapan Yusuf ini – sebuah keadilan yang berakar pada belas kasihan dan bukan legalisme yang kaku – mengundang kita untuk mempertimbangkan bagaimana kita menghadapi tantangan-tantangan kontemporer dengan belas kasih. Di negeri kita, di mana ketegangan sosial dan ketidakpastian ekonomi masih terus berlanjut, teladan Yusuf mengajak kita untuk mewujudkan kasih Kristus dengan memprioritaskan kepedulian terhadap mereka yang rentan dan mendorong rekonsiliasi di tengah perselisihan.

Nama Yesus (“Yahweh menyelamatkan”) dan Imanuel (“Allah beserta kita”) menawarkan penghiburan di masa-masa yang penuh gejolak ini. Secara global, ketika Gereja membahas isu-isu seperti sinodalitas, berhadapan dengan krisis lingkungan, dan transformasi digital dalam pewartaan, nama-nama ini menegaskan kehadiran Allah yang abadi dan panggilan-Nya untuk terlibat aktif dalam membangun kerajaan-Nya.

Warisan Katolik kita yang kaya mengingatkan kita bahwa, seperti silsilah Yesus, kisah komunitas kita adalah hamparan yang terdiri dari beragam individu yang bersatu dalam iman. Ketika kita menghadapi tantangan kontemporer, marilah kita percaya pada penyelenggaraan Tuhan dan, seperti Yusuf, memilih belas kasihan daripada penghakiman.

Semoga Yesus, Juruselamat dan Imanuel kita, menginspirasi kita untuk menjadi mercusuar pengharapan, membangun jembatan perdamaian dan keadilan di tengah dunia yang merindukan kasih Allah. “Tuhan beserta kita” adalah jaminan dan misi kita hari ini.

Tuhan, Engkau adalah Imanuel, Allah beserta kami. Sebagaimana Engkau menyertai kami, beranikanlah kami juga untuk beserta saudara-saudari kami dalam kebutuhan rohani dan materi mereka. Amin.

Author

Write A Comment