Sabda Hidup
Minggu, 10 November 2024, Minggu Biasa XXXII Tahun B
Bacaan: 1Raj. 17:10-16; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Ibr. 9:24-28; Mrk. 12:38-44 (Mrk. 12:41-44) .
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” [Mrk 12: 43 – 44]
Bacaan pertama hari ini merupakan salah satu dari kumpulan kisah mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Elia yang menantang Raja Ahab dan Ratu Izebel yang adalah seorang penyembah berhala yang kejam, sehubungan dengan penyembahan dewa palsu, Baal. Perikop ini menjelaskan bagaimana seorang janda miskin, seorang Syro-Fenisia yang tinggal di Sarfat di wilayah Sidon, di tengah-tengah bencana kelaparan dan hanya memiliki sedikit persediaan untuk dirinya sendiri, membagikan sisa-sisa persediaan bahan makanan yang sedikit kepada Nabi Elia. Sebagai balasan atas pengorbanannya yang murah hati, ia menerima berkat Tuhan untuk bulan-bulan yang tersisa dari masa kelaparan tersebut dalam bentuk persediaan makanan yang cukup untuk kelangsungan hidup mereka. Elia, atas perintah Tuhan Allah dan mengikuti kebiasaan Timur Tengah, meminta keramahan dalam bentuk makanan dan akomodasi. Janda itu bukannya tidak mau, tetapi ia mengatakan kepada nabi bahwa ia hanya memiliki cukup makanan untuk satu kali makan untuk anak laki-lakinya dan dirinya sendiri. Namun demikian, Elia memintanya untuk menunjukkan kepercayaannya pada penyediaan Tuhan dengan terlebih dahulu memberikan makanan untuk dirinya sendiri, sebagai abdi Allah. Dia melakukan apa yang diminta Elia, dan kita tahu apa yang terjadi. Tempayan berisi tepung dan buli-buli berisi minyak miliknya tidak pernah kosong sampai kekeringan berakhir.
Bacaan kedua dikutip dari Surat Ibrani yang ditulis untuk orang-orang Yahudi yang baru percaya kepada Kristus, sebagian untuk menolong mereka mengatasi hilangnya kenyamanan yang telah mereka nikmati dari lembaga-lembaga Yudaisme. Otoritas Bait Allah tidak lagi mengijinkan orang-orang Kristen Yahudi untuk berpartisipasi dalam sinagoge atau ibadah di Bait Allah.
Ayat-ayat yang dikutip dalam bacaan hari ini mengakhiri uraian mengenai tugas kurban. Yesus Kristus sebagai imam agung sekaligus mempersembahkan kurban dan kurbannya. Tindakannitulah yang menumbuhkan harapan baru karena Ia tampil sepenuhnya sebagai pribadi yang terikat pada Allah. Penulis surat ini, sesuai dengan adat istiadat Perjanjian Lama menampilkan dua pemikiran. Pertama, masuknya Imam Agung ke dalam tempat persembahan; kedua, kurban itu sendiri sebagai silih atas dosa-dosa. Ketika Imam Agung masuk ke tempat persembahan membawa kurban silih maka seluruh umat disucikan dalam roh dan kebenaran. Persembahan Kristus di salib adalah persembahan yang istimewa, Ia sendiri adalah Imam Agung sekaligus menjadi kurbannya. Penulis surat ini hendak menegaskan bahwa Kristus, Imam Agung kita, bukan masuk ke tempat kudus buatan manusia. Ia masuk ke dalam kemuliaan Allah berkat kebangkitan-Nya dari alam maut. Ini menunjukkan arah pemikiran keyakinan Kristen. Kalau demikian, kenisah, ibadah dalam kenisah, sebenarnya hanyalah gambaran. Persembahan Kristus itu sempurna dan berkenan kepada Allah, sehingga tidak perlu diulang, melainkan diaktualkan kembali dalam kehidupan orang beriman. Setiap kali orang beriman beribadat, ia mempersatukan diri dengan persembahan diri Yesus Kristus, karena Ialah Imam Agung yang sesungguhnya.
Dengan demikian, penulis surat ini hendak menegaskan kepada orang-orang Kristen-Yahudi ini bahwa Yesus, yang hidup di tengah-tengah mereka, telah menjadi Ruang Mahakudus dan Imam Besar, yang di dalamnya semua ibadah Bait Allah berpusat. Karena Yesus telah menggantikan Bait Suci dan perantara manusia, orang-orang Kristen tidak perlu pergi ke Bait Suci untuk beribadah. Bait Suci yang sebenarnya bukanlah Bait Suci Yerusalem atau tempat ibadah lainnya, melainkan kemanusiaan Kristus, tempat kudus di mana Allah secara jasmaniah berdiam.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengkontraskan perilaku para ahli Taurat, yang mencari pengakuan dan kemuliaan diri, dengan tindakan rendah hati seorang janda miskin yang mempersembahkan dua peser di Bait Allah. Kita sering menafsirkan ayat ini sebagai penghargaan Yesus atas kontribusi tanpa pamrih yang diberikan oleh janda miskin tersebut. Namun, beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa mungkin ada makna yang lebih dalam dari itu.
Yesus memang sungguh kecewa dengan kepemimpinan Bait Allah dan tindakan korup para imam di sana. Oleh karena itu, Dia tidak mungkin mendukung gagasan bahwa janda miskin memberikan “semua yang dimilikinya” kepada sistem yang cacat. Ia mungkin sedang mengungkapkan ketidakpuasannya dengan menekankan, “Janda miskin ini telah memberikan semua yang dimilikinya.” Nampaknya Ia mengecam sebuah sistem yang mengharuskan orang yang paling miskin dan paling rentan sekalipun untuk berkontribusi pada perbendaharaan bait suci!
Paus Fransiskus sering kali menekankan keindahan dari kerendahan hati, kemurahan hati, dan dedikasi yang tenang dari mereka yang melayani orang lain tanpa mencari perhatian. Perikop ini menantang kita untuk memeriksa niat kita, terutama dalam tindakan pelayanan dan amal kita.
Pemuridan yang sejati tidak terdiri dari perbuatan-perbuatan yang mengesankan atau pengakuan publik. Sebaliknya, ini adalah tentang ketulusan hati kita. Paus Fransikus sering memperingatkan bahaya mencari prestise dan pengakuan dan mengingatkan kita bahwa Tuhan menghargai tindakan kebaikan dan pengorbanan yang diam-diam dan tersembunyi yang kita lakukan dengan hati yang murni, yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Ketika kita memberi – baik waktu, sumber daya, atau kasih – marilah kita melakukannya tanpa mengharapkan imbalan. Amal kasih kita itu bukan sekadar untuk konten, untuk diupload di media sosial! Ketimbang mencari pengakuan, marilah kita bawa sukacita dan kelegaan dengan membantu rekan kerja, mendukung teman yang sedang berjuang, atau menawarkan telinga untuk mendengarkan dengan empati. Sangatlah perlu bagi kita untuk menjangkau mereka yang terpinggirkan dan melayani mereka yang membutuhkan, dengan keyakinan bahwa Tuhan memperhatikan dan menghargai tindakan terkecil yang kita lakukan dengan kasih. Dengan cara ini, kita mewujudkan kepercayaan dan iman yang mendalam dari sang janda, dengan menyadari bahwa Tuhan menghargai ketulusan di balik setiap pemberian kita.
Allah Bapa Mahamurah, tolonglah kami untuk menyadari betapa miskinnya kami sebenarnya – miskin dalam iman, kepercayaan, dan kasih yang murah hati. Semoga kami semakin serupa dengan Putra-Mu, sehingga kami dapat tersedia bagi semua orang dan membagikan yang terbaik yang ada di dalam diri kami dengan murah hati. Amin.
