Sabda Hidup
Selasa, 5 November 2024, Selasa Pekan Biasa XXXI
Bacaan: Flp 2:5-11; Mzm 22:26b-27.28-30a.31-32; Luk 14:15-24.
Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh,” (Luk 14: 16 – 21).
Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan sebuah perumpamaan tentang perjamuan besar yang melambangkan kerajaan Allah. Begitu besar kehendaknya untuk membagikan sukacitanya, tuan rumah mengirimkan banyak undangan, tetapi para tamu menolak undangan itu, mereka berdalih, masing-masing sibuk dengan masalah mereka sendiri. Tuan pesta itu tak menyerah, ia membuka pintunya untuk orang miskin, orang cacat, dan orang yang terpinggirkan, menyambut mereka yang mungkin tidak akan pernah mengenal keramahtamahan seperti itu. Ini adalah ilustrasi mendalam tentang undangan Tuhan yang tak terbatas kepada semua orang, terlepas siapapun diri kita.
Perjamuan itu melambangkan sukacita dan kepenuhan surga – sebuah pesta kekal yang dipersiapkan oleh Tuhan untuk anak-anak-Nya. Surga diberikan secara cuma-cuma; keselmatan adalah anugerah, tidak seorang pun yang dapat berusaha untuk masuk ke dalamnya dengan kekuatan sendiri. Allah kita yang penuh kasih mengundang kita untuk masuk ke dalam hubungan dengan-Nya, tetapi banyak dari kita, seperti para undangan, yang disibukkan dengan perkara-perkara duniawi. Kita berkata “nanti saja” atau “saya sibuk”, dan gagal melihat betapa berharganya undangan-Nya.
Alasan-alasan atau dalih yang kita sampaikan adalah cerminan dari keegoisan kita, yang lebih memilih kenyamanan kita daripada persekutuan dengan Tuhan dan sesama. Ketika kita menolak undangan-Nya, seolah-olah kita berkata, “Hidupku sudah cukup tanpa Engkau, Tuhan.” Namun, dengan menolak panggilan-Nya, kita kehilangan kepenuhan hidup yang Dia janjikan.
Perumpamaan ini juga mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang tidak pernah berhenti. Bahkan ketika ditolak, Dia tetap mengulurkan tangan-Nya, mencari mereka yang merasa tidak layak atau ditolak oleh masyarakat. Dia rindu untuk mengumpulkan semua orang ke dalam pelukan-Nya, terutama mereka yang merasa ditolak dan tidak berdaya.
Hari ini, marilah kita berefleksi: Apakah kita terbuka terhadap perjamuan yang Tuhan tawarkan? Apakah kita mengizinkan Dia menerobos kesibukan dan prioritas duniawi kita? Apa prioritas kita dalam hidup? Apa yang benar-benar penting? Apakah kita memberi tempat bagi Allah dan kerajaan-Nya dalam hidup kita? Jika kita tidak menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan kita, kita akan dengan mudah menggantikan Dia dengan semua hal lain yang kita lakukan dan miliki. Tanpa Tuhan, semua yang kita lakukan akan menjadi berhala yang kita sembah.
Tuhan, bantulah agar peka untuk melihat berbagai cara Engkau mengundangku untuk ambil bagian lebih banyak lagi dalam kehidupan-Mu yang penuh kasih karunia dan belas kasih. Tolonglah aku untuk menjadikan Engkau sebagai prioritas dalam hidupku. Amin.
