Remah Harian

BERSIHKAN BAGIAN DALAM

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 15 Oktober 2024, Peringatan Wajib St. Teresa dari Avila
Bacaan: Gal 4:31b- 5:6Mzm 119:41.43.44.45.47.48Luk 11:37-41

Hari ini kita peringati St. Teresa dari Avila, atau juga disebut St. Teresa dari Yesus. Teresa dari Avila lahir pada tahun 1515 di Avila, Spanyol. Ia masuk Biara Karmelit pada usia 20 tahun dan hidup sebagai biarawati kontemplatif selama 17 tahun. Pada usia 38 tahun, ia mengalami transformasi spiritual dan mendedikasikan 20 tahun berikutnya untuk mereformasi Ordo Karmelit dan mendirikan 18 biara baru untuk wanita. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI menyatakannya sebagai Doktor Gereja wanita pertama.

Ketika St Teresa memprakarsai reformasi Karmelit, ia menekankan pentingnya tiga kebajikan dalam komunitasnya: cinta untuk orang lain, melepaskan diri dari harta duniawi, dan kerendahan hati. Dia menganggap kerendahan hati sebagai kebajikan yang paling penting karena membentuk fondasi untuk dua kebajikan lainnya. Teresa percaya bahwa pelepasan diri dan kerendahan hati sangat erat kaitannya, dan menyebutnya sebagai “dua saudara yang tak terpisahkan” yang selalu saling terkait.

Ketika Santo Lukas menulis Injil, perhatiannya adalah untuk memperkenalkan Yesus, Anak Allah, yang menjadi manusia. Pembacanya adalah orang-orang bukan Yahudi yang tidak mengetahui adat istiadat dan tradisi Yahudi. Oleh karena itu, ritual pembasuhan dan upacara penyucian orang Yahudi tidak berarti apa-apa bagi mereka. Namun, Lukas menggunakan kisah ini untuk mengajar komunitasnya agar tidak menghakimi orang lain.

Perikope Injil hari ini mengisahkan Yesus yang diundang makan malam oleh seorang Farisi. Dia masuk tanpa mengikuti kebiasaan ritual pembasuhan. Apakah karena Yesus tidak peduli dengan tradisi yang diikuti oleh tuan rumah dengan teliti? Mengapa Ia menyerang orang Farisi yang mengundangNya makan malam? Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa praktik ritual lahiriah tidak membuat seseorang menjadi lebih kudus dari yang lain.

Tentu saja, Santo Lukas sedang memberikan sebuah katekese di sini. Dia menarik perhatian para pembacanya pada praktek agama yang salah. Dengan menceritakan peristiwa ini, ia mengajarkan para pembacanya untuk tidak menilai kebajikan seseorang berdasarkan pelaksanaan ritual lahiriah. Sikap-sikap Farisi seperti itu juga terlihat di dalam Gereja saat ini. Dapat saja terjadi perpecahan yang serius di dalam Gereja karena rubrik liturgi dan ritual. Para uskup, imam dan umat terpecah dalam hal bagaimana merayakan Misa. Ironisnya, kita bertengkar mengenai ritual yang digunakan dalam Ekaristi – ekspresi tertinggi dari kasih Yesus kepada umat manusia!

Ayat terakhir dari perikop Injil hari ini menunjukkan kepada kita apa yang seharusnya menjadi prioritas kita. Yesus menyarankan agar kita memberi sedekah kepada orang miskin. Sebuah tindakan kasih dan bela rasa kepada mereka yang membutuhkan lebih berkenan di hadapan Tuhan daripada semua ritual dan tradisi. Partisipasi kita dalam Misa Minggu, pendalaman Alkitab, dan retret, semuanya bermakna hanya ketika praktik-praktik kesalehan ini membantu kita untuk menjadi orang yang lebih baik, menjadi ayah, ibu, saudari, saudara, atau istri atau suami yang lebih baik, yang membawa cinta dan belas kasihan Allah kepada orang-orang yang ada di sekitar kita di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.

Sangatlah mudah untuk menilai orang lain, termasuk sesama umat Katolik, dari ketaatan atau ketidaktaatan mereka terhadap kebiasaan-kebiasaan tertentu. Sebagian besar ayat-ayat dalam Injil yang menyerang orang-orang Farisi sebenarnya ditujukan kepada kita – orang-orang Farisi zaman sekarang

Di tempat lain, Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menghakimi karena sangat sulit bagi kita untuk mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Janganlah kita melupakan Firman Tuhan: “Yang Aku kehendaki adalah belas kasihan dan bukan persembahan.”

Tuhan, bantulah kami menjadi menjadi saksi yang kuat dan setia di dunia ini atas kebenaran, kejujuran, dan kesejatian. Amin.

Author

Write A Comment