Sabda Hidup
Senin, 14 Oktober 2024, Senin Pekan Biasa XXVIII
Bacaan: Gal. 4:22-24,26-27,31-5:1; Mzm. 113:1-2,3-4,5a,6-7; Luk. 11:29-32.
Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Luk 11: 29)
Jelas sekali bahwa Yesus berbicara kepada para pemimpin agama yang berulang kali meminta “tanda” kepada-Nya. Namun, mereka tidak mau melihat tanda-tanda dan mukjizat yang dilakukan Yesus bagi orang-orang yang datang kepada-Nya.
Ketika Paus Fransiskus berkunjung ke Slovakia pada bulan September tahun 2021, ketika berbicara dengan sekelompok Yesuit, ia berbicara tentang sebuah saluran TV Katolik besar yang terus mengkritik semua yang dilakukan paus. Dan paus berkata, “Ini adalah pekerjaan iblis.” Banyak orang yang tidak senang dengan komentarnya. “Ada, misalnya, sebuah saluran televisi Katolik besar yang tidak ragu-ragu untuk terus menjelek-jelekkan Paus,” kata Fransiskus. “Saya secara pribadi pantas menerima serangan dan hinaan karena saya adalah orang berdosa, tetapi Gereja tidak pantas menerimanya. Itu adalah pekerjaan iblis. Saya juga telah mengatakan hal ini kepada beberapa dari mereka.”
Dalam Injil hari ini, kita melihat contoh Yesus yang kehilangan kesabaran. Dia terdengar sangat kecewa dan berkata, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Penyucian Bait Allah bukanlah satu-satunya peristiwa ketika kita melihat wajah Yesus yang marah. Menolak untuk melihat keajaiban dan mukjizat di sekeliling kita dan menyangkal tangan Tuhan yang bekerja dalam hidup kita adalah tindakan yang jahat – pekerjaan iblis.
Penolakan para pemuka agama untuk melihat tanda-tanda di sekitar mereka disebabkan oleh pikiran mereka yang tertutup. Pemahaman mereka akan kitab suci dan pengetahuan mereka akan tradisi membuat mereka merasa paling benar dan lebih suci dari yang lain. Mereka tidak memiliki ruang lagi untuk menerima kabar baik, kabar baik dari Allah yang penuh belas kasihan dan pengampunan. Itulah sebabnya ketika Yesus mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, menenangkan badai dan memberi makan orang yang lapar, orang-orang biasa sangat takjub dan bersukacita atas hal-hal besar yang telah Allah lakukan di antara mereka. Namun, para ahli Taurat dan para Farisi masih meminta tanda-tanda dari surga. Yesus menolak untuk mengalah; Dia tahu bahwa tidak ada tanda dan mukjizat yang dapat memuaskan permintaan mereka karena mereka keras kepala dan merasa benar sendiri.
Yesus, seperti Yunus, adalah panggilan untuk bertobat dan berbalik secara radikal. Dan Yesus menyiratkan bahwa banyak dari pendengarnya tidak siap atau tidak mau mendengar panggilan itu. Mereka tidak membutuhkan tanda-tanda; Yesus telah memberi mereka banyak tanda melalui pengajaran dan karya penyembuhan-Nya.
Tidak adanya keterbukaan terhadap perubahan dan ketaatan pada tradisi juga merupakan kecenderungan Gereja masa kini. Ketika kita gagal mengambil keputusan, takut mengambil risiko dan menolak untuk menerima perubahan, kita gagal untuk percaya kepada Allah yang penuh kejutan.
Hari ini, Sabda Tuhan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini di hadapan kita: “Apakah saya tertutup, terikat pada ide-ide saya sendiri, dan apakah saya kaku dan tegar tengkuk? Atau saya terbuka kepada Allah yang penuh kejutan?” Dan juga: “Apakah saya orang yang stagnan atau orang yang sedang dalam perjalanan?” Apakah saya mampu memahami dan menghargai tanda-tanda dan keajaiban yang terjadi di sekitar saya?
Tuhan, semoga kami tidak mengurung diri dalam penjara-penjara kecil kepentingan diri sendiri, tetapi sungguh-sungguh bersatu dan bebas di dalam Kristus sebagai sebuah komunitas yang melayani. Amin.
