Sabda Hidup
Rabu, 28 Agustus 2024, Peringatan Wajib St. Agustinus.
Bacaan: 2Tes. 3:6-10.16-18; Mzm. 128:1-2.4-5; Mat. 23:27-32
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran,”(Mat 23: 27).
Berapakah biaya yang anda belanjakan agar anda tampil menarik dan meyakinkan? Dari kepala hingga ujung kaki, berapa uang yang dibelanjakan agar kita nampak memuaskan bagi orang lain yang memandang kita? Kita semua ingin tampak lebih baik dari bayangan yang kita lihat sendiri pada cermin. Nampak baik dapat membuat siapa saja yang melihat kita setiap hari terkagum-kagum.
Apalagi di masa sekarang ini, rupa dan penampilan amatlah penting dalam dunia digital kita. Ada penekanan untuk nampak cantik dan tampan dan orang menggunakan pelbagai cara agar tampil cantik, tampan, “kinclong” di pelbagai platform media sosial. Ada rupa-rupa applikasi untuk mem-beautify wajah kita. Bahkan ketika kita mengambil foto selfie dengan gawai kita, kamera yang kita pakai sudah terintegrasi dengan applikasi sehingga hasil jepretan kamera menjadi lebih mulus, dagu tirus, mata lebih menarik, hidung lebih mancung, dst. Jangan mudah tergoda penampilan mulus di media sosial.
Hari ini, kita dengarkan dua yang terakhir dari tujuh ‘sabda celaka’ yang disampaikan Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus mengecam kemunafikan mereka dengan dua contoh. Kamu seperti kuburan yang dilabur putih… (ay.27-28). Kuburan dilabur putih dan dijaga kebersihannya untuk menunjukkan rasa hormat kepada para leluhur dan untuk menghindari orang-orang yang tanpa sadar melangkahi kuburan dan menjadi najis secara ritual Yahudi. Walau dilabur putih bersih, sebuah kuburan tetap berisi tulang belulang dan mayat yang membusuk.
Yesus menyoroti pentingnya realitas kedalaman diri kita ketimbang penampilan sosial kita. Yang penting adalah pribadi kita yang sesungguhnya, kedalaman diri kita, pribadi yang otentik. Ketika Ia tergantung di kayu salib, Dia sendiri nampak “begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi,” (Yes 52: 14); Ia juga “tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak,” (Yes 53: 2). Tetapi pada saat itulah kasih dan pemberian diri yang terdalam tercurah bagi kita. Si janda miskin yang memasukkan dua peser dalam kotak persembahan bait Allah pasti nampak tidak penting dan persembahannya pun amat kecil (Mrk 12:41-44, Luk 21:1-4). Tetapi Yesus melihat ketulusan dan kemurahan hati yang berlimpah, seorang yang memberikan segala-galanya seperti Dia sehingga para murid pun diundang untuk belajar darinya.
Penampilan bisa menipu. Para ahli Taurat dan para Farisi dikecam oleh Yesus karena mereka juga “menipu” dengan penampilan luaran mereka, seperti kubur berlabur putih. Kemunafikan harus dihentikan dan digantikan dengan komitmen dan kesaksian. Kita mungkin dapat menipu orang lain, tetapi kita tidak dapat menipu Allah dan diri kita sendiri. Kemunafikan tidak menguntungkan siapa pun dan tidak berarti apa-apa. Kita bertanya-tanya bagaimana orang dapat hidup dengan itu. Kabar baiknya adalah, kita semua memiliki iman dan kemampuan untuk menjalani apa yang kita percayai. Setiap orang memiliki karunia dan kemampuan tersebut. Kita berasal dari Tuhan dan kita memiliki hati yang mampu hidup dan mengasihi secara otentik. Iman dan kehidupan harus saling bertemu dalam diri kita. Jelaslah bahwa kita tidak dapat hanya memiliki prinsip tanpa tindakan nyata. Iman kita perlu dikemas menjadi nyata dalam keseluruhan pribadi kita.
Lebih jauh lagi, tujuan kita bukanlah untuk menyenangkan orang lain. Kita diciptakan untuk melayani sesama, tetapi bukan berarti selalu menyenangkan mereka. Hanya kepada Allahlah kita bertanggung jawab. Allahlah yang harus kita taati dan kita puaskan. Kepada Allah kita harus menyerahkan diri kita. Dialah yang mengerti kita dan selalu bersedia membimbing dan menolong kita. Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran dan hati kita. Adalah sebuah kesalahan besar jika kita mencoba menipu-Nya. Memiliki hubungan yang baik dengan-Nya berarti hidup secara otentik. Kristus mengundang kita untuk tidak hanya memperhatikan bagaimana kita dilihat oleh orang lain, tetapi mengutamakan kualitas kasih dari kedalaman diri kita yang otentik.
Mari mohon rahmat Roh Kudus untuk menyalakan api kasih Tuhan di dalam diri kita. Jadilah cantik dan tampan luar dalam.
Murnikanlah kehidupan batiniah kami, Tuhan, dan tolonglah kami untuk menyelaraskannya dengan kehidupan lahiriah kami. Amin.
