Sabda Hidup
Jumat, 2 Augustus 2024, Jumat Pekan Biasa XVII
Bacaan: Yer. 26:1-9; Mzm. 69:5.8-10.14; Mat. 13:54-58.
Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” [Mat 13: 54 – 57]
Hari ini, Injil menampilkan Yesus di sebuah sinagoga di kota kelahiran-Nya, Nazaret, di mana Ia ditolak oleh orang-orang yang mengenal-Nya dengan baik. Orang-orang Nazaret memandang popularitas dan penerimaan-Nya di desa-desa sekitar dengan penuh kecurigaan dan kecemburuan. Karena mereka tidak mau menerima ajaran barunya, mereka kehilangan kesempatan untuk menerima kesembuhan melalui belas kasih-Nya.
Kita menghadapi risiko yang sama ketika kita menganggap remeh Injil. Paus Fransiskus dengan indah merefleksikan sikap penduduk Nazaret: Orang-orang yang se-asal dengan Yesus telah mengenal-Nya selama tiga puluh tahun, dan mereka berpikir bahwa mereka tahu segalanya! Mereka terkungkung oleh “pengetahuan” mereka dan menolak untuk mengetahui apa yang baru tentang Yesus.
Ketika kita membiarkan kenyamanan rutinitas dan gagasan-gagasan yang sudah ada sebelumnya menguasai kita, maka akan sulit bagi kita untuk menerima pengalaman-pengalaman baru. Jika kita tidak terbuka terhadap penyataan yang tak terduga dari Tuhan, iman kita dapat menjadi sebuah siklus monoton yang perlahan-lahan kehilangan maknanya dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang membosankan.
Mengapa orang-orang Nazaret tidak mengenali dan percaya kepada-Nya? Mereka tidak dapat menerima bahwa keagungan Allah akan dinyatakan dalam tubuh manusia yang tidak berarti, atau bahwa Anak Allah adalah anak seorang tukang kayu, atau bahwa yang ilahi akan tersembunyi di dalam tubuh manusia, atau bahwa Allah akan berdiam di dalam wajah, perkataan, dan tindakan seorang manusia biasa. Inilah skandal (batu sandungan) itu: inkarnasi Allah, wujud-Nya, ‘kehidupan sehari-hari-Nya’.
Paus Fransiskus mengutip kata-kata Santo Agustinus, yang berkata, “Saya khawatir ketika Tuhan lewat… Jangan-jangan saya tidak mengenali Tuhan ketika Dia lewat.” Janganlah kita melewatkan kesempatan untuk mengenali Tuhan dalam keseharian hidup kita. Hanya hati dan pikiran yang terbuka yang dapat menangkap kehadiran Tuhan, dapat mendengar Ia berbicara melalui hal-hal atau pribadi-pribadi yang tak terduga.
Apakah Tuhan sedang berbicara kepada Anda saat ini melalui seseorang atau situasi yang paling tidak Anda duga akan Dia gunakan untuk menyampaikan pesan-Nya?
Yesus, Engkau datang sebagai Anak tukang kayu yang rendah hati. Berilah aku rahmat untuk menjadi rendah hati. Amin.
