Remah Harian

MENJADI RENDAH HATI DI HADAPAN TUHAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 17 Juli 2024, Rabu Pekan Biasa XV
Bacaan: Yes 10:5-7.13-16Mzm 94:5-6.7-8.9-10.14-15Mat 11:25-27.

MAT 11: 25 – 27

Para ahli Taurat, para pemuka agama, dan para penguasa Bait Allah menolak Yesus, Sang Sabda Allah. Namun, orang-orang sederhana dan biasa di desa-desa menerima-Nya. Sementara para intelektual yang memproklamirkan diri sebagai intelektual berusaha mencari-cari kesalahan-Nya, orang miskin, orang sakit, dan mereka yang hidup di pinggiran masyarakat berduyun-duyun datang kepada-Nya untuk mendengarkan sabda penghiburan, penerimaan, dan kasih-Nya. Dalam perikop Injil hari ini, Yesus berterima kasih kepada Bapa di surga karena telah menyingkapkan misteri Allah kepada orang-orang biasa, orang-orang kecil. Yesus tidak mengutuk hikmat dan kehebatan intelektual, tetapi yang Ia kecam adalah kesombongan intelektual orang-orang terpelajar.

Di akhir perikop ini, Yesus mengidentifikasi diri-Nya sebagai Anak Allah yang datang untuk menyingkapkan hakikat Allah yang sesungguhnya kepada manusia. “Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Dalam Injil Yohanes, kita mendengar Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).

Dikatakan bahwa “hati”, bukan kepala, yang merupakan “rumah Injil”. Kesombongan kitalah yang memisahkan kita dari kasih karunia Allah dan bukan pengetahuan kita. Banyak orang pintar saat ini khawatir bahwa percaya kepada Allah adalah hal yang konyol. Namun, sangat penting untuk menyadari bahwa menerima Injil membutuhkan kerendahan hati dan itu bukanlah suatu kebodohan.

Ini adalah tantangan bagi para gembala dan pemimpin komunitas Gereja di zaman kita untuk mengesampingkan kesombongan dan ego kita dan menjadi rendah hati di depan umat Allah. Kita dapat belajar dari rasa ingin tahun dan penerimaan seorang anak. Kepada orang-orang dengan sikap seperti merekalah misteri-misteri Allah disingkapkan. Anak-anak kecil dicirikan oleh keterbukaan, keingintahuan, dan tidak menghakimi. Dari sikap-sikap itulah kita belajar kerendahan hati, yang akan menuntun kita untuk berdiri dengan penuh kekaguman di hadapan misteri Allah.

Apakah Anda tetap berpikiran terbuka terhadap Tuhan, atau Anda berpikir bahwa Anda mengetahui segala-galanya?

Tuhan ajarlah kami kerendahan hati, tuntun kami untuk berdiri penuh kekaguman di hadapan-Mu. Amin.

Author

Write A Comment