Sabda Hidup
Rabu, 26 Juni 2024, Rabu Pekan Biasa XII
Bacaan: 2Raj 22:8-13; 23:1-3; Mzm 119:33.34.35.36.37.40; Mat 7:15-20.
Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”
MAT 7: 15 – 16a
Kita mendekati bagian akhir dari khotbah di Bukit. Tantangan tersulit Gereja mula-mula mungkin muncul bukan dari penganiayaan para penguasa atau penentangan dari para pemimpin Yahudi, tetapi dari perpecahan internal. Tidak semua orang yang mengaku sebagai orang Kristen memberitakan Injil yang asli. Kehadiran dan ajaran para pemimpin ini membuat Matius berbicara tentang masalah nabi-nabi palsu di tengah-tengah masyarakat melalui perkataan Yesus.
Para murid akan menghadapi tantangan baik dari luar maupun dari dalam komunitas. Untuk membedakan Injil yang sejati dari ajaran dan pewarta palsu yang menipu, kita harus kembali ke awal Khotbah di Bukit: Sabda Bahagia.
Sabda Bahagia memaklumkan jalan baru untuk untuk menjadi yang terberkati: jalan yang benar, jujur, menjaga integritas, menunjukkan pengampunan, menahan diri dari kekerasan, dan menolak godaan untuk memprioritaskan kekayaan materi. Namun, semua prinsip ini berpusat pada perintah kasih. Ajaran atau tindakan apa pun yang bertentangan dengan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama tentu tidak Kristiani.
Injil memanggil kita untuk menahan diri dari membuang-buang waktu untuk menuding dan menghakimi orang lain. Sebaliknya, Injil mendorong kita untuk memeriksa diri kita sendiri hari ini. Jika tindakan, perilaku, dan gaya hidup kita tidak selaras dengan nilai-nilai Injil, kita memberikan contoh yang menyesatkan dan menjadi nabi palsu.
Tindakan berbicara lebih lantang ketimbang kata-kata dan dapat menyampaikan motivasi yang lebih kuat. Yesus memperingatkan tentang risiko melakukan amal, puasa, dan doa dengan niat yang tidak murni. Kita mesti berjuang untuk menghasilkan buah yang baik melalui tindakan kita.
Manakah buah-buah yang baik yang menunjukkan kesejatian kita sebagai murid-murid Kristus dan bukan “nabi-nabi palsu”? Paulus telah memberi kita daftar “buah-buah sejati” dari Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (bdk. Gal. 5:22-23). Buah yang pertama dan terutama dari daftar itu adalah “kasih”. Yesus sendiri telah menunjukkan dengan jelas dengan buah apa kita dapat dikenal: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35). Memang, dengan kasih seperti itulah orang-orang Kristen dikenal kekhasannya dalam Gereja purba, seperti yang ditegaskan oleh Tertulianus dalam Apologeticus: “Perbuatan-perbuatan kasih yang begitu mulia itulah yang membuat banyak orang mengenal kita. Lihatlah, kata mereka, bagaimana mereka saling mengasihi.”
Bapa, terima kasih karena Engkau telah memanggil kami untuk dekat dengan-Mu. Pakailah kami, Tuhan, agar kami dapat menghasilkan buah yang baik agar dengan demikian kami dikenal sebagai murid-murid sejati Putera-Mu. Amin.
