Sabda Hidup
Jumat, 28 Maret 2025, Jumat Pekan Prapaskah III
Bacaan: Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8b-9,10-11b,14,17; Mrk. 12:28b-34.
“Hukum yang terutama ialah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini,”
(MRK 12: 29 – 31)
Bacaan-bacaan hari ini mempunyai titik temu pada sentralitas Allah dalam hidup kita. Bacaan pertama (Hosea 14: 2 – 10) mengundang umat Israel untuk secara total kembali kepada relasi dengan Yahweh yang memberi hidup. Allah menjadi bagaikan “embun” yang memberi kehidupan bagi Israel. “Aku akan seperti embun bagi Israel,” Hanya pada Yahweh, Israel “akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar.” Refren Mazmur tanggapan juga menegaskan hal itu. “Akulah Tuhan, Allahmu, dengarkanlah suara-Ku.” Lalu dalam Injil Yesus menegaskan bahwa perintah yang pertama adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan SEGENAP hatimu dan dengan SEGENAP jiwamu dan dengan SEGENAP akal budimu dan dengan SEGENAP kekuatanmu,” (Mrk 12: 30), mengasihi Allah secara TOTAL, menjadikan Allah sebagi pusat hidup.
Masa Prapaskah menjadi saat yang baik bagi kita merenungkan, sejauh mana Allah menjadi pusat hidup saya. Ini seringkali kita nyatakan dengan kata-kata. Namun, Allah sungguh-sungguh menjadi pusat hidup kita, itu lebih dari sekadar menghindari kejahatan. Allah menjadi pusat hidup kita bila:
- Mempunyai waktu yang kita persembahkan kepada-Nya. Artinya adalah bahwa kita rela memberikan waktu bagi-Nya. Tidak ada alasan lagi mengatakan “saya tak punya waktu.” Mengatakan “Saya tak punya waktu,” berarti tidak menjadikan-Nya prioritas dalam hidup saya.
- Berusaha menjadi semakin intim, akrab, dengan-Nya dalam doa. Kita tidak menghitung seberapa lama dan seberapa panjang komunikasi kita dengan seseorang yang sungguh dekat dan akrab dengan kita.
- Allah di atas segala-galanya yang baik dalam hidup saya. Ingat kisah Abraham yang dikaruniai anak setelah menantikannya amat lama? Allah menguji dia dengan memintanya untuk mengorbankan Ishak, anaknya itu. Abraham taat kepada Allah. Ia tahu bahwa anaknya adalah anugerah yang terbesar baginya, namun ia rela memberikannya untuk Allah. Salah satu hal yang menghalangi Allah untuk tinggal dalam hati kita, mungkin bukan hal-hal jahat, tetapi bisa jadi hal-hal baik, yang telah menjadi kelekatan bagi kita.
Akhirnya, menarik untuk diperhatikan bahwa setelah Yesus menjelaskan pertanyaan tentang hukum yang “paling utama” dan bahwa ada dua hukum utama, kutipan Injil hari ini ditutup dengan catatan: “Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus,” (Mrk 12: 34). Mereka tak berani lagi bertanya karena mereka disadarkan bahwa kasih kepada Allah tak terpisah dengan kasih kepada sesama, sebab semua manusia diciptakan segambar dengan Allah. Orang tak dapat mengasihi Allah tanpa mengasihi “gambar”-Nya.
Sejauh mana Allah menjadi pusat hidup kita? Sejauh mana totalitas kasih kita kepada Allah? Sejauh mana saya mengasihi sesama?
Kami mengasihi Engkau, ya Allah kami, dan kami ingin mengasihi Engkau lebih lagi. Berilah kami karunia untuk mengasihi Engkau sebanyak yang kami inginkan, dan sebanyak yang seharusnya. Oh sahabat terkasih, yang telah begitu mengasihi dan menyelamatkan kami, yang pikiran tentang Dia begitu manis dan selalu bertambah manis, datanglah bersama Kristus dan berdiamlah di dalam hati kami; agar Engkau mengawasi bibir kami, langkah kami, perbuatan kami, dan kami tidak perlu cemas akan jiwa maupun tubuh kami. Berikanlah kepada kami kasih, yang termanis dari segala pemberian, yang tidak mengenal musuh. Berikanlah kepada kami kasih yang murni di dalam hati kami, yang lahir dari kasih-Mu kepada kami, agar kami dapat mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi kami. Ya Bapa Yesus Kristus yang maha pengasih, yang darinya mengalir segala kasih, biarlah hati kami yang membeku dalam dosa, yang dingin terhadap-Mu dan dingin terhadap sesama, dihangatkan oleh api ilahi ini. Maka tolonglah dan berkatilah kami di dalam Putera-Mu.
(Doa St. Anselmus, Abad XII)
