Remah Harian

JANGAN BIARKAN IA MENANGIS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 21 November 2024, Peringatan Wajib St. Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah
Bacaan: Why 5:1-10Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9bLuk 19:41-44

Perayaan Paskah Yahudi sudah dekat. Sekitar dua setengah juta orang hadir di Yerusalem untuk merayakan perayaan tersebut. Menjelang perayaan tersebut para pengikut Yesus berjalan bersama-Nya sejauh dua mil dari Bukit Zaitun ke kota Yerusalem. Tetapi ketika rombongan mencapai tempat di mana pemandangan kota Yerusalem nampak menakjubkan, Yesus mulai menangis.

Mengapa Ia menangis? Ia menangis karena mereka tidak mendengarkan Dia. Ia menangis karena hati mereka tertutup bagi-Nya. Ia menangis karena Ia menghendaki kebahagiaan dan keselamatan mereka, tetapi mereka justru menjauh dari-Nya, Gembala yang amat rindu menuntun mereka ke rumput yang hijau. Ia menangis karena mereka tidak memahami Sabda penghakiman-Nya karena kesombongan dan ketidakpercayaan mereka. Padahal, Yerusalem adalah tempat-Nya berdiam, tempat tahta Allah (Yer 3: 1dst); tempat yang dipilih Allah untuk kediaman nama-Nya (1 Raj 11: 13); dan gunung suci di mana Ia melantik raja-Nya (Mzm 2).

Yesus mau tidak mau menubuatkan kehancuran Yerusalem dengan cucuran air mata. Nubuat Yesus terpenuhi ketika pada tahun 70 AD, tentara Romawi menghancurkan bait Allah di Yerusalem dan kemudian di bawah perintah Hadrian, mereka mendirikan patung Yupiter. Ahli sejarah bangsa Yahudi, Flavius Josephus, mengatakan bahwa ada sekitar satu juta, seratus ribu orang meninggal pada waktu terjadinya penyerbuan tentara Roma ke Yerusalem di tahun 70. (Flavius Josephus, The Jewish War, 6, 420). Jumlah yang begitu besar dikarenakan pada waktu itu banyak peziarah dari seluruh negeri yang datang untuk merayakan hari raya Paskah.

Sekarang ini, mungkin Tuhan juga menangis ketika Ia melihat penderitaan yang tak perlu, anak-anak-Nya menderita di mana-mana. Penderitaan yang sebagian besar karena mengabaikan-Nya, atau karena melawan kehendak-Nya. Banyak yang menderita karena kelaparan, kemiskinan, penculikan, pembunuhan, kemabukan, penyalahgunaan napza, dan masih banyak lagi. Ada juga penderitaan yang sebenarnya tak perlu tapi muncul karena ketidaksetiaan dalam perkawinan, karena kurangnya usaha untuk saling memahami atau karena tidak mau saling mengampuni.

Yesus juga menangis saat ini ketika hidup tidak dihormati, ketika bayi-bayi tak bersalah ditolak dan diaborsi, ketika kekudusan perkawinan dilanggar, ketika kita menolak untuk setia terhadap nilai-nilai Injili.

Ratapan Yesus menggemakan kesedihan Allah yang berasal dari kasih yang begitu besar bagi kita.

Ada sebuah Inskripsi di Katedral Lübeck, Jerman yang berbunyi:

Ye call Me Master and obey me not,
Ye call Me Light and see Me not,
Ye call Me Way and walk not,
Ye call Me Life and desire Me not,
Ye call Me wise and follow Me not,
Ye call Me fair and love Me not,
Ye call Me rich and ask Me not,
Ye call Me eternal and seek Me not,
Ye call Me gracious and trust Me not,
Ye call Me noble and serve Me not,
Ye call Me mighty and honor Me not,
Ye call Me just and fear Me not,
If I condemn you, blame me not.

Kamu menyebut-Ku Guru dan tidak taat kepada-Ku,
Kamu menyebut-Ku Terang dan tidak melihat Aku,
Kamu menyebut-Ku Jalan dan tidak ikut jalan-Ku,
Kamu menyebut-Ku Hidup dan tidak menginginkan Aku,
Kamu menyebut-Ku Bijaksana dan tidak mengikuti Aku,
Kamu menyebut-Ku adil dan tidak mengasihi Aku,
Kamu menyebut-Ku kaya dan tidak meminta kepada-Ku,
Kamu menyebut-Ku yang abadi dan tidak mencari Aku,
Kamu menyebut-Ku rahim dan tidak percaya kepada-Ku,
Kamu menyebut-Ku luhur dan tidak melayani Aku,
Kamu menyebut-Ku mulia dan tidak menghormati Aku,
Kamu menyebut-Ku mahaadil dan tidak takut kepada-Ku,
Jika Aku menghukummu, jangan salahkan Aku.

Tentu saja Ia tidak akan menghukum sebab Ia sendiri bersabda, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya,” (Yoh 12: 47). Jadi, up to you…. Jangan biarkan Ia menangis.

Ya Tuhan, semoga aku tidak membuat-Mu menangis lagi. Amin.

***

Peringatan St. Perawan Maria Dipersembahkan Kepada Allah

Pada hari ini di tahun 543 diberkati gereja baru Santa Perawan Maria dekat kenisah Yerusalem. Maka bersama umat Kristen Timur, kita ingat bagaimana Maria diberkati oleh Tuhan sejak awal hidupnya. Ia menjadi kediaman Roh Kudus yang indah berseri karena hidup suci. Terdorong oleh Roh Kudus Maria mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia melaksanakan kehendak Bapa dengan sempurna, dan menjadi Bunda Yesus Kristus. Maria sungguh bahagia, sebab ia mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah.

Dalam pembaptisan hidup kita juga dipersembahkan kepada Allah. Kita pun diberkati oleh Tuhan dan dilimpahi dengan rahmatNya. Berulangkali kita mendengar Sabda Allah. Apakah kita juga melaksanakannya?

Author

Write A Comment