Remah Mingguan

PERSEMBAHAN HIDUP

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 2 Februari 2025, Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Bacaan: Mal 3:1-4Mzm 24:7.8.9.10Ibr 2:14-18Luk 2:22-40.

Hari ini kita rayakan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah/Bait Allah.

Dalam tradisi Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah (sejak abad ke-5) dirayakan di kota Yerusalem (Ritus Timur), dan sejak abad ke-6 diperluas ke seluruh Gereja Katolik Roma. Di Roma pesta ini dirayakan dengan nada pertobatan, sedangkan di Perancis dengan pemberkatan meriah dan perarakan lilin, sehingga sekarang masih dikenal sebagai “Misa Terang” (Candlemas/misa lilin) atau sering juga disebut candelaria.

Menurut bacaan Injil tadi, ada dua peristiwa yang dibuat oleh keluarga Yusuf: pentahiran ibu, 40 hari setelah melahirkan (Im 12:1-8), dan persembahan/penebusan anak sulung (Kel 13:1-2,11-16). Persembahan yang mereka berikan amatlah sederhana yaitu  sepasang burung tekukur dan dua ekor anak burung merpati, tanpa domba (bdk Im 12:6-8). Di antara banyak orang yang berlalu larang di Bait Allah, Simeon dan Hana segera mengenali bayi Yesus, membuka nubuat bagi Yesus dan bagi Maria ibuNya.  Dan setelah itu, Keluarga Kudus kembali ke Nazareth dan Yesus bertumbuh di sana, terutama dalam iman. Tentunya semua itu tidak lepas dari figur pendidik Yesus yaitu Yusuf. 

Ada beberapa hal yang patut kita renungkan:

Pertama, ketaatan Yusuf sebagai kepala keluarga dan kesederhanaan keluarga Nazareth menjadi daya dorong bagi kita juga untuk menjadi pribadi yang taat kepada Allah.  Bagaimana itu kita wujudkan? Sejak dini, kita telah mengantar pribadi dalam keluarga untuk dekat dan mengenal Tuhan. Ketika orang tua taat dan hidup beriman keluarga terjamin, maka anak-anak kitapun akan tumbuh dalam iman. 

Hal sederhana yang kita lakukan sebagai orang tua dan keluarga adalah membangun kebiasaan hidup keluarga : pergi ke gereja setiap hari minggu dan hari raya,  pantang, pengakuan dosa, membaptiskan anak sejak diri, mengikutkan dalam komuni pertama ataupun krisma. Cara hidup beriman orang tua sangat berpengaruh terhadap cara hidup iman anak. Dan semuanya itu dimulai bukan ketika anak-anak lahir saja, tetapi jauh sebelum menikah, kebiasaan-kebiasaan iman ini harus sudah dibangun. Kadang-kadang banyak keluarga yang kurang memperhatikan ini. Suruh anak ke gereja, tapi bapa pergi mancing…

Kedua, hidup kita, keluarga, anak dan apa pun yang kita miliki adalah anugerah pemberian Allah yang diserahkan kepada kita. Semua itu harus kita syukuri. Ungkapan syukur yang terbaik dan terindah adalah mempersembahkan kembali diri kita, keluarga dan anak-anak kita kepada Tuhan. Bukan berarti harus menjadi biarawan dan biarawati atau menjadi tenaga sosial gereja tetapi  membaktikan hidup kita bagi kemuliaan Tuhan melalui karya dan tugas kita sehari-hari. Karena seluruh hidup kita haruslah dipersembahkan bagi Allah. Apakah kita telah sungguh-sungguh membaktikan hidup bagi kemuliaan Tuhan? Apa yang telah kita lakukan?

Selain itu kita belajar memberi. Seperti Keluarga Nazareth memberikan persembahan, kita belajar “memberi”. Misalnya saja, sekarang ini anda diberi masing-masing uang 1 juta apakah anda senang? Happy? Sebaliknya, kalau anda diminta untuk memberi 1 jt mau atau tidak? Senang atau tidak? Mungkin pikir-pikir….  Sering kali kegembiraan kita itu pasif, tergantung pada orang lain.

Ketiga, dalam nubuat Simeon, dinyatakan Siapa Yesus: “Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Dialah sang Terang. Mengingatkan kita juga akan panggilan kita menjadi terang! Tetapi sekaligus juga menjadi perbantahan. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan!” Siapkah menghidupi iman Katolik kita secara konsekuen, walau dengan resiko menjadi perbantahan?

Keempat, harapan yang hidup. Pada tokoh Simeon dan Hana dalam diri mereka saya menemukan contoh dan teladan  orang-orang yang memiliki kesetiaan dan harapan yang tidak pernah pudar. Meskipun menunggu dalam waktu yang cukup lama mereka tetap setia dan memiliki ketangguhan hati yang tidak berubah. Meneladani sikap kedua tokoh ini kita juga diundang untuk menumbuhkan harapan itu dalam setiap tantangan hidup, percaya bahwa Allah selalu pasti akan menepati janji-Nya. Kita adalah para peziarah harapan.

Tuhan Yesus Kristus, tanpa Engkau kami berjalan dalam kegelapan. Biarlah terang-Mu bersinar terang di dalam diri kami, sehingga kami dapat memantulkan terang-Mu itu bagi dunia, kendati keterbatasan kami. Amin.

Author

Write A Comment